Jsistem-produksi×
eos_blogpostssistem-produksi

Pengertian Sistem Produksi dan Klasifikasinya

// Dipublikasikan: 11-Mar-2025✏ Diperbarui: 09-Jul-20269 menit baca
Pengertian Sistem Produksi dan Klasifikasinya

Kegiatan produksi merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh sebuah perusahaan. Setiap perusahaan biasanya akan menargetkan sejumlah barang yang harus diproduksi dalam setiap periodenya. Oleh sebab itu sistem produksi sangat diperlukan oleh perusahaan. Pemahaman mendalam tentang Pengertian sistem produksi menjadi kunci bagi profesional modern untuk unggul di era digital ini.

Sistem produksi ini akan membuat membuat tujuan perusahaan bisa berjalan dengan baik. Sistem ini biasanya akan diterapkan pada semua bisnis yang bergerak di bidang industri, termasuk pada industri manufaktur.

Apa itu Sistem Produksi?

Sistem produksi merupakan susunan kegiatan yang semuanya saling berhubungan untuk mencapai tujuan akhir. Semua kegiatan tersebut juga akan saling mendukung satu sama lainnya.

Bisa dikatakan bahwa sistem produksi ini saling terintegrasi karena didalamnya terdapat fungsional perusahaan. Selain itu, komponen-komponennya juga bersifat struktural.

Di dalam fungsional perusahaan itu terdapat pengendalian, perencanaan, pengawasan, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan manajerial.

Sementara untuk struktural terdiri dari tenaga kerja, mesin, peralatan dan sebagainya.

Jenis Sistem Produksi

Ada berbagai jenis produksi dan bisa digolongkan berdasarkan pres, tujuan, dan kategori lainnya. Di bawah ini kami akan jelaskan jenis sistem produksi berdasarkan prosesnya dan tujuannya.

1. Berdasarkan Prosesnya

Proses yang dimaksud disini adalah proses hingga menghasilkan sebuah output. Ada dua jenis produksi jika dilihat dari prosesnya yaitu Continuous Process dan Intermitten Process. Penjelasannya bisa Anda lihat di bawah ini.

  1. Continuous Process

Proses produksi ini bersifat berkelanjutan atau kontinu. Sistem akan menyusun komponen yang dibutuhkan secara berurutan sesuai dengan kegiatan produksi yang akan dilakukan.

Bahan yang digunakan dalam prosesnya juga sudah dilakukan standarisasi terlebih dahulu. Sehingga hasil produksinya tidak akan mengecewakan. Jenis sistem produksi yang satu ini sangat cocok diterapkan untuk perusahaan yang sudah mendapatkan permintaan yang sangat tinggi.

  1. Intermitten Process

Proses produksi ini bersifat terputus-putus dimana kegiatan produksi akan dilakukan ketika ada permintaan. Biasanya proses produksi ini membutuhkan standar khusus ketika akan menjalankan produksi.

Hal tersebut bisa berefek pada penyusunan komponen atau peralatan produksinya. Sehingga tidak akan berurutan dan bisa menjadi lebih fleksibel sesuai dengan permintaan.

2. Berdasarkan Tujuan Operasinya

Sistem produksi juga bisa kita kelompokkan berdasarkan tujuan dari operasi tersebut dilakukan. Penjelasan lebih lengkapnya bisa Anda pelajari di bawah ini.

  1. Assembly to Order (ATO)

Pihak perusahaan biasanya akan memiliki desain dan modul operasional yang standar. Sehingga produk yang dihasilkan bisa sesuai dengan permintaan konsumen dan modul tersebut.

Salah satu industri yang menjalankan jenis proses produksi ini adalah perusahaan pabrik mobil.

  1. Engineering to Order (ETO)

Jenis proses produksi ini biasanya akan dijalankan oleh perusahaan yang memproduksi barang-barang custom. Dengan kata lain, perusahaan ini akan memproduksi barang dari mulai desain hingga hasil sesuai dengan permintaan dari konsumen.

Dalam sistem produksinya, pihak perusahaan biasanya juga akan menyesuaikan dengan kebutuhan dari konsumen.

  1. Make to Order (MTO)

Perusahaan akan membuang barang jika sebelumnya pesanan dari konsumen telah diterima. Dengan begitu, sistem produksi ini akan lebih berbeda jika dibandingkan dengan sistem produksi yang lain.

Kegiatan produksi akan dilakukan jika produk benar-benar telah diputuskan oleh konsumen.

  1. Make to Stock (MTS)

Kegiatan produksi akan dilakukan untuk berjaga-jaga jika barang yang tersedia habis atau untuk kebutuhan stock. Perusahaan akan terus memproduksi barang tanpa harus menunggu pesanan dari pihak konsumen. Sehingga stok barang akan ada kapanpun ada konsumen yang membeli.

Beberapa Contoh Sistem Produksi

Jika kita amati, banyak sekali contoh sistem produksi dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja sebagian besar orang tidak menyadarinya dan menganggapnya biasa-biasa saja. Karakteristik sistem produksi yang paling melekat adalah fungsi struktural dan fungsional.

Di bawah ini adalah beberapa contoh sistem produksi yang ada di sekitar kita.

1. Rumah Sakit

Komponen-komponen yang terdapat di dalam rumah sakit tentu saja sangat komplit. Dokter, perawat, apoteker adalah contoh komponen yang sangat penting di rumah sakit. Semua komponen-komponen tersebut termasuk ke dalam fungsi struktural.

Sementara itu untuk contoh komponen fungsionalnya adalah SOP untuk dokter dan tenaga medis. Sementara untuk output yang dihasilkan dari rumah sakit adalah pelayanan medis untuk pasien dan layanan lainnya yang berhubungan dengan kesehatan.

2. Transportasi Darat

Transportasi darat yang digunakan seperti bus juga memiliki sistem produksi. Fungsi strukturalnya adalah kondektur, supir, dan tenaga ahli mesin. Sementara untuk fungsionalnya adalah informasi dan pengaturan yang terdapat di dalamnya.

Sementara untuk output yang dihasilkannya adalah layanan transportasi darat untuk orang-orang yang ingin berpergian.

Jika kita perhatikan jangkauan dari sistem produksi itu sangat luas dan memiliki peranan yang sangat penting dalam bisnis. Oleh sebab itu Anda harus benar-benar mengoptimalkan sistem ini supaya perusahaan bisa lebih profit. Bahkan bisa berefek pada kepuasan perusahaan Anda di mata pelanggan. 

Informasi lebih lanjut bagi Anda ingin mengembangkan bersama kami, silahkan hubungi kami di bawah ini.

blog_footer_tagline

Komponen Utama Sistem Produksi Modern di Indonesia

Sistem produksi yang efisien tidak bisa berdiri sendiri — ia terdiri dari tiga komponen inti yang saling bergantung: input, proses, dan output. Memahami ketiga komponen ini adalah fondasi sebelum perusahaan manufaktur Indonesia memutuskan untuk mengoptimalkan atau mendigitalisasi operasinya.

Komponen Input mencakup semua sumber daya yang dimasukkan ke dalam sistem produksi:

  • Bahan baku dan material: Besi, plastik, tekstil, atau komponen elektronik yang menjadi dasar produk jadi. Pabrik garmen di Bandung misalnya mengandalkan impor kain polyester dari China sebagai input utama.
  • Tenaga kerja: Operator mesin, teknisi quality control, hingga supervisor produksi. Di sektor elektronik Batam, tenaga kerja terampil adalah input yang paling kritikal.
  • Mesin dan peralatan: CNC machine, conveyor belt, injection molding, atau mesin jahit industrial. Investasi mesin yang tepat menentukan kapasitas produksi jangka panjang.
  • Energi dan utilitas: Listrik, gas industri, dan air bersih — biaya utilitas bisa mencapai 8-15% dari total biaya produksi pabrik Indonesia.

Komponen Proses adalah inti dari sistem produksi, mencakup tiga aktivitas kunci:

  • Scheduling (Penjadwalan): Menentukan urutan dan waktu produksi setiap batch. Pabrik otomotif Karawang menggunakan master production schedule (MPS) yang disinkronkan dengan permintaan assembly line Toyota atau Honda.
  • Routing (Pengaliran): Jalur yang dilalui material dari gudang bahan baku hingga produk jadi. Kesalahan routing bisa menyebabkan bottleneck yang menurunkan output 20-40%.
  • Dispatching (Penugasan): Pemberian instruksi kerja ke operator atau mesin berdasarkan work order. Di era digital, dispatching dilakukan via tablet atau barcode scanner yang terhubung ke sistem ERP.

Komponen Output bukan hanya produk jadi, tetapi juga mencakup waste management — pengelolaan sisa produksi. Pabrik makanan dan minuman di Jawa Timur kini diwajibkan melaporkan tingkat food waste ke Kementerian Lingkungan Hidup, menjadikan waste management bagian integral dari sistem produksi modern.

Perbedaan Sistem Produksi Make-to-Order vs Make-to-Stock

Dua pendekatan dominan dalam sistem produksi Indonesia adalah Make-to-Order (MTO) dan Make-to-Stock (MTS). Pilihan antara keduanya berdampak besar pada cara perusahaan mengelola inventaris, kapasitas, dan cash flow.

AspekMake-to-Order (MTO)Make-to-Stock (MTS)
Trigger ProduksiOrder masuk dari customerForecast permintaan pasar
Lead TimeLebih panjang (1-8 minggu)Lebih pendek (dari stok gudang)
Risiko InventarisRendah — produksi sesuai pesananTinggi — risiko overstock atau dead stock
CustomisasiTinggi — sesuai spesifikasi buyerRendah — produk standar massal
Modal KerjaLebih efisienButuh modal besar untuk stok
Contoh Industri IndonesiaGarmen ekspor, furniture rotan, mesin customFMCG (mie instan, sabun), semen, baja lembaran

Kapan memilih MTO? Pilih Make-to-Order jika produk Anda memiliki variasi tinggi, nilai per unit besar, atau buyer meminta spesifikasi khusus. Pabrik furniture rotan Cirebon mayoritas menggunakan MTO karena setiap pesanan buyer dari Eropa memiliki desain unik.

Kapan memilih MTS? Pilih Make-to-Stock jika demand stabil dan dapat diprediksi, produk standar, serta kompetisi berbasis kecepatan pengiriman. PT Indofood misalnya menggunakan MTS untuk mie instan karena permintaan relatif stabil dan buyer mengharapkan pengiriman dalam 24-48 jam.

Banyak pabrik Indonesia kini mengadopsi hybrid approach: MTS untuk produk bestseller dan MTO untuk varian khusus atau pesanan ekspor — strategi ini dikenal sebagai assemble-to-order (ATO).

Digitalisasi Sistem Produksi: Dari Manual ke ERP Terintegrasi

Survei Kemenperin 2024 menunjukkan bahwa 67% pabrik skala menengah-besar di Indonesia masih mengelola sistem produksi secara semi-manual — menggunakan spreadsheet Excel yang terpisah-pisah untuk scheduling, inventory, dan laporan produksi. Hasilnya: data tidak real-time, keputusan terlambat, dan biaya operasional membengkak.

Digitalisasi sistem produksi melalui ERP (Enterprise Resource Planning) memberikan manfaat terukur:

  • Visibilitas real-time: Manajer produksi bisa memantau status setiap work order, kapasitas mesin, dan stok WIP (work-in-progress) dari satu dashboard — tanpa harus turun ke lantai produksi setiap jam.
  • Pengurangan waste 15-30%: ERP membantu mengidentifikasi bottleneck dan pemborosan melalui analitik produksi. Klien manufaktur tekstil EOS Teknologi berhasil menurunkan defect rate dari 4,2% ke 1,8% setelah implementasi modul quality control terintegrasi.
  • Integrasi procurement dan inventory: Sistem produksi terhubung langsung dengan pembelian bahan baku dan manajemen gudang — saat stok material turun di bawah reorder point, purchase order otomatis ter-generate.
  • Perencanaan kapasitas lebih akurat: Dengan data historis produksi yang tersimpan di ERP, forecast kapasitas untuk 3-6 bulan ke depan menjadi jauh lebih presisi.

EOS Teknologi telah mendampingi lebih dari 50 perusahaan manufaktur Indonesia dalam transformasi sistem produksi mereka — dari pabrik garmen skala menengah hingga produsen komponen otomotif. Jika Anda ingin mengetahui berapa potensi penghematan yang bisa dicapai pabrik Anda melalui digitalisasi sistem produksi, konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim ahli EOS Teknologi — tanpa biaya, tanpa komitmen.

Komponen Utama dalam Sistem Produksi yang Efektif

Sistem produksi yang berjalan dengan baik bukan hanya tentang mesin yang bekerja atau tenaga kerja yang banyak. Ada lima komponen kritis yang harus saling terintegrasi untuk menciptakan produksi yang efisien, konsisten, dan menguntungkan bagi perusahaan manufaktur Indonesia.

1. Material dan Bahan Baku Terkelola

Bahan baku adalah fondasi produksi. Kekurangan satu komponen saja dapat menghentikan seluruh lini produksi. Sistem produksi modern menggunakan Material Requirement Planning (MRP) untuk menghitung kebutuhan material secara otomatis berdasarkan jadwal produksi aktual — bukan berdasarkan perkiraan atau pengalaman semata.

2. Proses Terstandarisasi

Setiap langkah produksi harus memiliki Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas dan terukur. Tanpa standar, kualitas produk bergantung pada individu — bukan sistem. Ini menciptakan risiko besar saat terjadi pergantian operator atau peningkatan kapasitas produksi secara mendadak.

3. Kapasitas Mesin dan Tenaga Kerja

Alokasi kapasitas yang tepat menentukan throughput. Kesalahan dalam perencanaan kapasitas adalah penyebab terbesar bottleneck di pabrik. Solusi modern menggunakan sistem Andon yang terhubung langsung ke ERP untuk monitoring OEE secara real-time.

Sistem Produksi Terintegrasi: Peran ERP di Manufaktur Indonesia

Kelima komponen sistem produksi hanya dapat dioptimalkan jika ada sistem informasi yang mengintegrasikannya. Di sinilah ERP berperan sebagai pusat saraf operasional pabrik modern.

Perusahaan di Kawasan Berikat bahkan memiliki kebutuhan tambahan: sistem produksi mereka harus terintegrasi dengan sistem kepabeanan CEISA 4.0 — setiap pergerakan barang harus tercatat dan dapat diaudit oleh Bea Cukai kapan saja.

EOS Teknologi mengembangkan modul sistem produksi yang mencakup Work Order Management, Bill of Materials digital, penjadwalan kapasitas otomatis, dan integrasi penuh dengan sistem IT Inventory untuk pembaruan stok real-time tanpa input manual.

Kesimpulan: Memilih Pendekatan Sistem Produksi yang Tepat

Tidak ada sistem produksi yang universally terbaik. Pilihan bergantung pada karakteristik produk, volume pesanan, tingkat customisasi, dan investasi teknologi yang tersedia. Yang penting, di era industri 4.0, sistem produksi efektif membutuhkan dukungan sistem informasi terintegrasi.

Ingin mengetahui bagaimana sistem produksi di pabrik Anda dapat dioptimalkan? Konsultasikan dengan tim ahli EOS Teknologi secara gratis — kami berpengalaman membantu perusahaan manufaktur Indonesia dari berbagai skala meningkatkan efisiensi produksi mereka.

Artikel Terkait Sistem Produksi

Was this article helpful?

// Your feedback helps us improve our content engine.

/* End of File: sistem-produksi.md */
Author: EOS Team
Ln 1, Col 1
{ } JavaScript

EOS Intelligence

Online

AI
Halo! Saya asisten AI EOS. 👋
Ada yang bisa saya bantu terkait kebutuhan pabrik Anda? (Misal: IoT, Bea Cukai, atau Modul Produksi?)
Powered by EOS AI & Gemini Pro