Material Shortage: Penyebab dan Dampaknya pada Produksi

Material Shortage: Penyebab dan Dampaknya pada Produksi
Ketersediaan bahan baku merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran produksi.
Ketika material yang dibutuhkan tidak tersedia dalam jumlah yang cukup, proses produksi dapat melambat bahkan berhenti sementara.
Kondisi ini dikenal sebagai material shortage.
Material shortage tidak selalu terjadi karena stok benar-benar habis. Masalah juga dapat muncul ketika bahan baku tersedia dalam jumlah yang lebih sedikit dari kebutuhan produksi, terlambat datang, atau belum siap digunakan pada saat dibutuhkan.
Jika tidak dikelola dengan baik, kekurangan material dapat berdampak pada jadwal produksi, biaya operasional, hingga pengiriman kepada pelanggan.
Apa Itu Material Shortage?
Material shortage adalah kondisi ketika jumlah bahan baku atau material yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan produksi pada waktu yang telah direncanakan.
Misalnya sebuah perusahaan membutuhkan 1.000 unit komponen untuk menjalankan produksi hari ini.
Namun stok yang tersedia hanya 650 unit.
Artinya terdapat kekurangan:
1.000 - 650 = 350 unit
Produksi mungkin tetap dapat berjalan untuk sementara, tetapi tidak dapat menyelesaikan seluruh rencana produksi.
Material shortage juga dapat terjadi ketika stok sebenarnya tersedia di supplier, tetapi belum sampai ke perusahaan saat dibutuhkan.
Karena itu masalah material tidak hanya berhubungan dengan jumlah inventory, tetapi juga dengan:
Planning → Purchasing → Supplier → Inventory → Production
Kekurangan Material Mulai Mengganggu Produksi?
Ketika kebutuhan bahan baku, purchase order, inventory, dan jadwal produksi dikelola secara terpisah, perusahaan dapat terlambat mengetahui bahwa material tidak akan mencukupi kebutuhan produksi.
EOS Teknologi membantu perusahaan mengintegrasikan proses purchasing, inventory, dan production planning melalui sistem ERP yang terstruktur.
Apa Penyebab Material Shortage?
Kekurangan bahan baku dapat berasal dari banyak faktor.
Dalam beberapa kasus, masalah bahkan sudah mulai muncul jauh sebelum produksi dijalankan.
1. Forecast Permintaan Tidak Akurat
Perusahaan biasanya menggunakan data permintaan untuk menentukan berapa banyak barang yang perlu diproduksi.
Jika permintaan aktual lebih tinggi dibandingkan forecast, kebutuhan material juga ikut meningkat.
Contohnya:
Forecast produksi:
5.000 unit
Permintaan aktual:
7.000 unit
Jika pembelian material hanya disiapkan untuk produksi 5.000 unit, perusahaan dapat mengalami kekurangan bahan baku untuk memenuhi tambahan permintaan tersebut.
2. Supplier Terlambat Mengirim
Supplier delay menjadi salah satu penyebab umum material shortage.
Perusahaan mungkin sudah membuat purchase order sesuai jadwal, tetapi material datang lebih lambat dari perkiraan.
Misalnya:
Supplier lead time normal:
7 hari
Lead time aktual:
12 hari
Terdapat tambahan waktu tunggu selama:
5 hari
Jika stok pengaman tidak cukup, produksi dapat kehabisan material sebelum pesanan berikutnya tiba.
3. Supplier Lead Time Tidak Akurat
Perencanaan purchasing sering menggunakan lead time sebagai dasar menentukan kapan purchase order harus dibuat.
Jika data lead time tidak sesuai kondisi aktual, pembelian bisa dilakukan terlalu terlambat.
Karena itu perusahaan perlu memantau tidak hanya lead time yang dijanjikan supplier, tetapi juga lead time aktual berdasarkan histori pengiriman.
4. Inventory Tidak Akurat
Sistem mungkin menunjukkan stok:
1.500 unit
Namun kondisi fisik hanya:
1.100 unit
Perbedaan 400 unit tersebut baru diketahui ketika produksi membutuhkan material.
Akibatnya perusahaan mengira stok masih mencukupi, padahal kondisi sebenarnya sudah berada di bawah kebutuhan.
5. Purchase Order Terlambat Dibuat
Material shortage tidak selalu disebabkan oleh supplier.
Proses internal juga dapat menyebabkan keterlambatan.
Misalnya:
Purchase Request → Menunggu Approval → Purchase Order → Supplier
Jika approval terlalu lama, purchase order juga terlambat dikirim.
Supplier akhirnya tidak memiliki cukup waktu untuk memenuhi kebutuhan material sesuai jadwal produksi.
6. Perubahan Production Plan
Jadwal produksi dapat berubah karena:
permintaan pelanggan meningkat,
prioritas order berubah,
mesin tertentu tidak tersedia,
order mendadak,
atau perubahan jadwal pengiriman.
Perubahan tersebut dapat membuat kebutuhan material berbeda dari perencanaan awal.
7. Tingginya Scrap atau Reject
Produksi tidak selalu menghasilkan output sesuai jumlah material yang digunakan.
Sebagian material dapat hilang karena:
scrap,
defect,
kesalahan proses,
atau produk reject.
Jika tingkat scrap lebih tinggi dari asumsi awal, material dapat habis lebih cepat dibandingkan perencanaan.
Dampak Material Shortage terhadap Produksi
Material shortage dapat memengaruhi banyak bagian operasional perusahaan.
Produksi Berhenti
Jika material kritis tidak tersedia, work order tertentu mungkin tidak dapat dijalankan.
Mesin dan operator tersedia, tetapi proses produksi tetap tidak dapat dimulai.
Jadwal Produksi Mundur
Production planning biasanya telah menentukan urutan pekerjaan.
Ketika satu material tidak tersedia, jadwal tersebut perlu diubah.
Tim PPIC mungkin harus memindahkan produksi lain lebih dahulu agar mesin tidak berhenti.
Utilisasi Mesin Menurun
Mesin yang seharusnya digunakan untuk produksi dapat menganggur karena menunggu material.
Akibatnya kapasitas produksi tidak digunakan secara optimal.
Biaya Produksi Meningkat
Kekurangan bahan baku dapat menyebabkan biaya tambahan seperti:
pembelian darurat,
pengiriman ekspres,
overtime,
rescheduling,
hingga biaya downtime.
Pengiriman Pelanggan Terlambat
Ketika produksi tertunda, finished goods juga selesai lebih lambat.
Akibatnya perusahaan mungkin tidak dapat memenuhi target delivery kepada pelanggan.
Contoh Material Shortage di Pabrik
Misalnya sebuah perusahaan memproduksi produk elektronik.
Satu unit produk membutuhkan:
2 unit Komponen A
Target produksi:
2.000 unit
Maka kebutuhan Komponen A adalah:
2 × 2.000 = 4.000 unit
Namun stok aktual hanya:
3.100 unit
Artinya terdapat shortage:
4.000 - 3.100 = 900 unit
Dengan stok tersebut, perusahaan hanya dapat memproduksi maksimal:
3.100 ÷ 2 = 1.550 unit
Padahal target produksi adalah 2.000 unit.
Terdapat kekurangan kapasitas produksi sebanyak:
450 unit produk
Jika komponen tambahan tidak segera tersedia, production plan harus disesuaikan.
Material Shortage dan MRP
Material Requirement Planning atau MRP digunakan untuk membantu perusahaan menentukan kebutuhan material berdasarkan rencana produksi.
MRP dapat mempertimbangkan beberapa informasi seperti:
production plan,
Bill of Material,
inventory,
scheduled receipt,
purchase order,
dan lead time.
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan:
Production Plan
↓
Bill of Material
↓
Hitung Kebutuhan Material
↓
Cek Inventory
↓
Hitung Kekurangan
↓
Purchase Requirement
Dengan proses tersebut, perusahaan dapat mengetahui material mana yang perlu dibeli sebelum produksi dimulai.
Peran Bill of Material dalam Mencegah Material Shortage
Bill of Material atau BOM menjelaskan material apa saja yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk.
Misalnya:
Produk X membutuhkan:
2 Komponen A
1 Komponen B
4 Komponen C
Jika production plan membutuhkan 1.000 Produk X, sistem dapat menghitung:
Komponen A:
2 × 1.000 = 2.000 unit
Komponen B:
1 × 1.000 = 1.000 unit
Komponen C:
4 × 1.000 = 4.000 unit
Kebutuhan tersebut kemudian dibandingkan dengan inventory yang tersedia.
Material yang tidak mencukupi dapat diketahui lebih awal sebelum work order dijalankan.
Material Shortage dan Safety Stock
Safety stock berfungsi sebagai stok cadangan untuk menghadapi kondisi yang tidak sesuai rencana.
Contohnya:
Rata-rata kebutuhan:
500 unit per minggu
Namun perusahaan menyimpan tambahan:
200 unit safety stock
Jika supplier terlambat beberapa hari, safety stock tersebut dapat membantu menjaga produksi tetap berjalan.
Namun jumlah safety stock juga perlu dihitung secara proporsional.
Safety stock terlalu kecil meningkatkan risiko stockout.
Sebaliknya, safety stock terlalu besar dapat meningkatkan biaya inventory.
Masih Mengetahui Kekurangan Material Setelah Produksi Dimulai?
Jika informasi purchasing, inventory, dan production planning tidak terhubung, material shortage sering kali baru diketahui ketika work order akan dijalankan.
ERP dan MRP membantu perusahaan melihat kebutuhan material lebih awal berdasarkan production plan, inventory, purchase order, dan lead time supplier.
Pelajari Sistem ERP untuk Produksi
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Material Shortage?
1. Gunakan Data Inventory yang Akurat
Production planning tidak dapat berjalan baik jika stok yang digunakan sebagai dasar perhitungan tidak sesuai kondisi fisik.
Setiap transaksi material perlu diperbarui secara konsisten.
2. Pantau Supplier Lead Time
Perusahaan perlu mengetahui berapa lama supplier benar-benar membutuhkan waktu untuk memenuhi pesanan.
Bandingkan:
Estimated Lead Time
dengan:
Actual Lead Time
Supplier yang sering terlambat perlu masuk evaluasi purchasing.
3. Gunakan Safety Stock
Material dengan risiko tinggi dapat diberikan safety stock.
Prioritas biasanya diberikan kepada material yang:
kritis untuk produksi,
memiliki lead time panjang,
sulit digantikan,
atau berasal dari supplier dengan performa tidak stabil.
4. Gunakan Reorder Point
Reorder point membantu menentukan kapan pembelian perlu dilakukan sebelum stok benar-benar habis.
Secara sederhana:
Reorder Point = Kebutuhan selama Lead Time + Safety Stock
Misalnya:
Kebutuhan harian:
100 unit
Lead time:
8 hari
Safety stock:
300 unit
Maka:
100 × 8 = 800 unit
Reorder point:
800 + 300 = 1.100 unit
Ketika stok mendekati 1.100 unit, perusahaan perlu mempertimbangkan melakukan pemesanan ulang.
5. Sinkronkan Purchasing dengan Production Planning
Purchasing perlu mengetahui kebutuhan material berdasarkan jadwal produksi.
Tanpa sinkronisasi, purchase order mungkin dibuat terlalu lambat.
Idealnya alurnya:
Sales Demand → Production Plan → Material Requirement → Purchase Request → Purchase Order
6. Evaluasi Supplier Performance
Supplier dapat dievaluasi berdasarkan:
ketepatan waktu,
kualitas,
konsistensi supply,
harga,
response time,
dan lead time aktual.
Material kritis juga dapat memiliki supplier alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber.
7. Pantau Scrap dan Reject
Jika penggunaan material aktual terus lebih tinggi daripada standar, perusahaan perlu mencari penyebabnya.
Bisa terjadi karena:
scrap tinggi,
kualitas material buruk,
mesin bermasalah,
atau proses produksi tidak stabil.
8. Buat Early Warning
Sistem dapat membantu memberikan peringatan ketika:
stok mendekati minimum,
purchase order terlambat,
kebutuhan produksi lebih tinggi dari inventory,
atau material belum tersedia menjelang production date.
Early warning membantu tim mengambil tindakan sebelum shortage benar-benar menghentikan produksi.
Material Shortage vs Stockout
Material shortage dan stockout memiliki arti yang mirip tetapi tidak selalu sama.
Material shortage berarti material yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Contoh:
Kebutuhan:
1.000 unit
Stok:
400 unit
Masih ada barang, tetapi jumlahnya tidak mencukupi.
Sementara stockout berarti stok benar-benar habis atau tidak tersedia ketika dibutuhkan.
Contoh:
Kebutuhan:
1.000 unit
Stok:
0 unit
Material shortage dapat menjadi tanda awal sebelum perusahaan mengalami stockout.
Material Shortage dan Production Scheduling
Ketika shortage terjadi, tim produksi biasanya perlu melakukan rescheduling.
Misalnya terdapat tiga work order:
WO-A membutuhkan Material X
WO-B membutuhkan Material Y
WO-C membutuhkan Material Z
Material X belum tersedia.
Daripada seluruh produksi berhenti, perusahaan dapat memprioritaskan WO-B dan WO-C terlebih dahulu.
Namun terlalu sering melakukan rescheduling juga dapat menimbulkan masalah lain.
Karena itu tujuan utama bukan hanya mampu merespons shortage, tetapi mendeteksinya sebelum production schedule terganggu.
Bagaimana ERP Membantu Mengurangi Material Shortage?
ERP membantu menghubungkan informasi dari berbagai departemen.
Contohnya:
Sales memberikan informasi demand.
PPIC membuat production plan.
MRP menghitung kebutuhan material.
Inventory menyediakan data stok.
Purchasing menangani material yang perlu dibeli.
Supplier memenuhi purchase order.
Dengan data yang saling terhubung, perusahaan dapat melihat kebutuhan material secara lebih menyeluruh.
Jika salah satu material tidak mencukupi, informasi tersebut dapat diketahui sebelum proses produksi dimulai.
Indikator yang Perlu Dipantau
Untuk mengurangi risiko shortage, perusahaan dapat memantau beberapa indikator seperti:
stock level,
safety stock,
reorder point,
supplier lead time,
open purchase order,
scheduled receipt,
material requirement,
production schedule,
scrap rate,
dan supplier on-time delivery.
Data tersebut membantu perusahaan melihat masalah bukan hanya ketika shortage sudah terjadi, tetapi ketika tanda-tandanya mulai muncul.
Kesimpulan
Material shortage adalah kondisi ketika material yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi pada waktu yang direncanakan.
Masalah ini dapat disebabkan oleh:
forecast yang tidak akurat,
supplier terlambat,
lead time yang salah,
inventory tidak akurat,
purchase order terlambat,
perubahan production plan,
hingga scrap yang terlalu tinggi.
Dampaknya dapat berupa downtime, jadwal produksi mundur, biaya tambahan, dan keterlambatan pengiriman kepada pelanggan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan perlu menghubungkan production planning, inventory, purchasing, supplier lead time, dan MRP dalam proses yang terstruktur.
Cegah Kekurangan Material Sebelum Menghambat Produksi
Material shortage sebaiknya diketahui sebelum work order masuk ke lantai produksi, bukan ketika operator sudah menunggu bahan baku.
EOS Teknologi membantu perusahaan mengintegrasikan purchasing, inventory, MRP, dan production planning melalui sistem ERP yang dapat disesuaikan dengan proses bisnis manufaktur.
Konsultasikan Kebutuhan Sistem Produksi Anda

Was this article helpful?
// Your feedback helps us improve our content engine.