Jpengertian-dan-cara-menghitung-tunjangan-hari-raya×
eos_blog›posts›pengertian-dan-cara-menghitung-tunjangan-hari-raya

Tunjangan Hari Raya (THR): Pengertian, Aturan, dan Cara Menghitung

// Dipublikasikan: 28-Jun-2023✏ Diperbarui: 08-Sept-2026⏱ 5 menit baca
Tunjangan Hari Raya (THR): Pengertian, Aturan, dan Cara Menghitung

Tunjangan Hari Raya (THR) adalah pendapatan non-upah yang wajib diberikan pengusaha kepada pekerja atau buruh menjelang hari raya keagamaan.

Ketentuan dasar mengenai THR Keagamaan di perusahaan diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016, yang hingga kini masih berstatus berlaku.

Aturan tersebut mencakup siapa yang berhak menerima THR, besaran yang diberikan berdasarkan masa kerja, waktu pembayaran, serta kewajiban perusahaan dalam pelaksanaannya.

Berikut pembahasan mengenai pengertian Tunjangan Hari Raya, aturan THR karyawan, siapa yang berhak, kapan THR dibayar, dan cara menghitungnya.

Pengertian Tunjangan Hari Raya

Tunjangan Hari Raya atau THR adalah pendapatan non-upah yang wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja atau buruh menjelang hari raya keagamaan.

THR Keagamaan diberikan satu kali dalam satu tahun sesuai hari raya keagamaan masing-masing pekerja.

Berdasarkan Permenaker No. 6 Tahun 2016, kewajiban tersebut berlaku bagi pekerja yang telah mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus-menerus atau lebih, baik dengan hubungan kerja PKWT maupun PKWTT

Di Indonesia, pengaturan mengenai tunjangan hari raya dapat berbeda-beda tergantung pada perusahaan dan perjanjian antara perusahaan dengan karyawan. Namun, terdapat beberapa aturan dan pedoman umum terkait tunjangan hari raya di Indonesia, antara lain:

Aturan THR Karyawan

Dasar khusus pemberian THR Keagamaan bagi pekerja/buruh di perusahaan adalah Permenaker Nomor 6 Tahun 2016.

Dalam ketentuan tersebut, perusahaan wajib memberikan THR kepada pekerja yang memenuhi syarat masa kerja. Pembayaran dilakukan dalam bentuk uang rupiah dan harus diberikan sesuai waktu yang ditentukan.

Perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama dapat mengatur nilai THR yang lebih baik apabila perusahaan telah memiliki ketentuan atau kebiasaan yang memberikan jumlah lebih besar.

Baca Juga: Pengertian Kwitansi, Fungsi, Komponen, dan Contohnya

Mengelola data karyawan dan payroll dalam jumlah besar?
Sistem HR dan payroll yang terintegrasi membantu perusahaan menyimpan data masa kerja, komponen upah, dan kebutuhan administrasi karyawan secara lebih terstruktur.

Pelajari solusi sistem bisnis EOS Teknologi

Siapa yang Berhak Mendapat THR?

Pekerja atau buruh yang telah mempunyai masa kerja paling sedikit 1 bulan secara terus-menerus berhak memperoleh THR Keagamaan.

Ketentuan tersebut berlaku bagi pekerja dengan:

PKWTT — Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu.
PKWT — Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.

Besarnya THR kemudian disesuaikan dengan masa kerja pekerja.

Kapan THR Harus Dibayar?

THR Keagamaan wajib dibayarkan paling lambat 7 hari sebelum Hari Raya Keagamaan pekerja.

Artinya, perusahaan tidak seharusnya menentukan waktu pembayaran hanya berdasarkan kebijakan internal apabila melewati batas waktu tersebut.

Perusahaan dapat membayar THR lebih awal selama tetap memenuhi ketentuan yang berlaku.

Cara Menghitung THR Karyawan

Masa Kerja 12 Bulan atau Lebih

Bagi pekerja yang telah bekerja 12 bulan secara terus-menerus atau lebih, besaran THR adalah:

THR = 1 bulan upah

Contoh:

Jika upah yang menjadi dasar perhitungan adalah Rp4.500.000, maka:

THR = Rp4.500.000

Jadi THR yang diterima adalah Rp4.500.000, bukan Rp9.000.000.

Masa Kerja 1 Bulan hingga Kurang dari 12 Bulan

Bagi pekerja dengan masa kerja 1 bulan hingga kurang dari 12 bulan, THR diberikan secara proporsional dengan rumus:

THR = Masa Kerja ÷ 12 × 1 Bulan Upah

Contoh:

Masa kerja: 7 bulan
Upah: Rp4.500.000

THR = 7 ÷ 12 × Rp4.500.000

THR = Rp2.625.000

Baca Juga: Perbedaan Logistik dan Supply Chain

Menghitung THR ratusan karyawan secara manual rawan salah masa kerja dan nominal.
Sistem payroll dapat menggunakan data karyawan dan masa kerja sebagai dasar untuk membantu proses perhitungan tunjangan secara lebih terstruktur.

Konsultasikan kebutuhan sistem HR & payroll

Komponen Upah untuk Perhitungan THR

Dasar satu bulan upah perlu disesuaikan dengan struktur pengupahan pekerja sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena komponen upah dapat berbeda antarperusahaan dan status pekerja, bagian payroll perlu memastikan dasar perhitungannya mengikuti regulasi serta struktur upah yang diterapkan perusahaan.

Bagaimana Jika Perusahaan Terlambat Membayar THR?

Pengusaha wajib membayarkan THR sesuai batas waktu yang telah ditetapkan.

Keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan konsekuensi berupa denda sesuai ketentuan THR Keagamaan.

Pengenaan denda tidak menghapus kewajiban perusahaan untuk tetap membayar THR kepada pekerja.

THR Jika Hubungan Kerja Berakhir Menjelang Hari Raya

Ketentuan THR dapat berbeda berdasarkan jenis hubungan kerja dan waktu berakhirnya hubungan kerja.

Karena itu, pekerja yang mengalami PHK atau kontraknya berakhir menjelang hari raya perlu melihat status PKWT/PKWTT serta ketentuan yang berlaku pada kondisi tersebut.

Siapa yang Berhak Dapat THR?

Dirangkum dari beberapa sumber, THR atau Tunjangan Hari Raya merupakan kewajiban perusahaan yang harus diberikan kepada seluruh karyawan, baik itu karyawan kontrak, outsourcing, honorer, hingga karyawan harian lepas. Berikut ini uraiannya.

Pekerja Tetap (Pegawai Tetap)

Pekerja yang memiliki status pegawai tetap (kontrak kerja tidak tertentu) berhak menerima THR. Ini mencakup karyawan yang dipekerjakan secara penuh waktu dengan status pegawai tetap di perusahaan.

Pekerja Kontrak

Karyawan yang memiliki status pegawai kontrak dengan perusahaan juga berhak menerima THR. Mereka yang dipekerjakan dalam jangka waktu tertentu atau untuk proyek-proyek tertentu memiliki hak yang sama untuk menerima THR.

Pekerja Harian Lepas

Pekerja harian lepas atau pekerja borongan yang bekerja untuk perusahaan juga berhak menerima THR. Mereka yang bekerja dalam jangka waktu yang lebih pendek atau berdasarkan pekerjaan tertentu tetap memiliki hak untuk menerima THR sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pekerja Outsourcing

Pekerja yang dipekerjakan melalui perusahaan penyedia jasa atau lembaga outsourcing juga dapat berhak menerima THR. Namun, dalam kasus ini, kewajiban pembayaran THR biasanya ditanggung oleh perusahaan penyedia jasa, bukan perusahaan tempat mereka ditempatkan.

Pekerja Honorer di Instansi Pemerintah: Pekerja honorer di instansi pemerintah juga berhak menerima THR sesuai ketentuan yang berlaku. THR diberikan sesuai alokasi pada DIPA, kontrak kerja, dan SK. Pemberian THR juga disesuaikan dengan kebijakan instansi masing-masing.

Tunjangan Hari Raya adalah hak pekerja yang wajib dipenuhi perusahaan sesuai ketentuan ketenagakerjaan.

Pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih memperoleh THR sebesar satu bulan upah, sedangkan pekerja dengan masa kerja 1 hingga kurang dari 12 bulan memperoleh THR secara proporsional.

Perusahaan juga perlu memperhatikan waktu pembayaran, status hubungan kerja, serta dasar upah yang digunakan agar proses pemberian THR dilakukan secara tepat.

Pengertian tunjangan hari raya - EOS Teknologi
Image: Pengertian tunjangan hari raya - EOS Teknologi

Artikel Terkait Manufaktur & ERP

Perlu mengelola payroll, masa kerja, dan tunjangan karyawan secara lebih terstruktur?
EOS Teknologi membantu perusahaan mengembangkan sistem bisnis yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan administrasi dan operasional perusahaan.

Hubungi EOS Teknologi untuk konsultasi sistem

Was this article helpful?

// Your feedback helps us improve our content engine.

/* End of File: pengertian-dan-cara-menghitung-tunjangan-hari-raya.md */
Author: EOS Team
Ln 1, Col 1
{ } JavaScript
Newsletter EOS

Wawasan ERP, IoT & Kepabeanan — langsung ke email Anda

Tips implementasi, update regulasi (Kawasan Berikat, CEISA, Coretax), dan studi kasus manufaktur. Tanpa spam, berhenti kapan saja.

Dengan berlangganan, Anda setuju menerima email dari EOS Teknologi. Lihat Kebijakan Privasi.